Steemit Bukan untuk Penulis, tapi…

Steemit Bukan untuk Penulis, itulah kata yang diucapkan…bukan kata itu he.. kalimat yang diucapkan @kemal13 saat kami awal berjumpa di Polem Kupi Banda Aceh (sekarang namanya barakah) saat itu saya baru memposting beberapa tulisan saya di Steemit dan memang minim upvoters. Saat itu aku gundah, tapi aku senang di sini karena ini sudah menjadi pelampiasan ide dikepalaku biar rambutku tak keriting jadi aku berusaha mengeluarkan apa yang terlintas di kepala, setiap hari ke steemit.

Pewarna masa depan

Perkara tulisanku tak diapresiasi oleh pihak steemit, mungkin mereka maunya cuma postingan utopian.io, membahas kripto, art dan travel, aku tetap menulis untuk teman-temanku, saban harinya. Karena juga ada banyak penulis di steemit dan akupun bergabung dengan mereka.

Steemit ini adalah untuk conten kreator. Kalau kata bang @rismanrachman-selamat datang kembali bang, di steemit kita berbisnis konten. Baik konten itu foto, gambar, desain, video, dan tutorial. Tapi hambarlah dia kalau tak ada tulisan yang menggambarkan tentang apa itu postingan, makanya perlu copywriters.

 

Pada awal-awal steemit, orang Aceh hanya menuliskan tentang criptocurrency. Lalu satu orang memulai menulis tentang alam Aceh yang indah disertai fotonya tentu, dan para whale-whale besar tertarik dengan alamĀ  Aceh yang indah dan selalu memberikan Upvote, malah @blocktrades pernah datang sehari dua kali di akun, untuk mengapresiasi postingan mereka yang luar biasa tentang keindahan alam Aceh.

Dalam perkembangannya, Steemit menghasilkan ratusan tulisan setiap harinya. Beraneka ragam tema dan topik diambil menurut hobi steemians. Para gamers betah di Dlive, para pembuat tutorial dan desain betah di @utopian.io. yang suka mereview gadget bisa memposting di @steemhunt dan para penulis kini jua mendapat tempat di @steempress.io.

Platform lain juga kini dijangkiti steemit, misalnya perdaerah steemians punya grup WA sendiri dan discord yang dibuat untuk para gamers kini menjadi tempat kongkow pasukan steemit. Tapi bukan tanpa cela, steemit juga punya beberapa kendala seperti literasi para penggunannya. Ada yang memposting tulisan terlalu singkat, mungkin mereka belum bisa move on dari facebook ataupun twitter, masih ada juga yang salah tag, misalnya tulisan tentang travel tapi tagnya, promo-steem, steemit dan lain-lain yang tak berkaitan dengan postingan yang dia publish.

Pelaku steemit adalah orang-orang kreatif, mereka memposting apa yang mereka suka dan tak boleh ada yang memprotesnya. Kita punya asas free will dan imajinasi yang tinggi untuk membikin postingan. Ada yang menulis berita, features, cerita sehari-hari, cerita seminggu-minggu sampai cerita berbulan-bulan belum juga selesai. Saya masih menunggu kematian @sweetsjjj kira-kira di postingan ke berapa dia akan menulis Travel With Me edisi I am dead. Juga slow walker, motorcycle diary kira-kira di nomer berapa mereka berhenti, iri soalnya saya, kok bisa menulis sebanyak itu.

Para steemian penulis jangan panik dengan judul, tetaplah berkarya selama nyawa masih di kandung badan. Perlu sekali Aceh ini banyak penulis, biar semua cerita Aceh tertulis untuk anak dan cucu kita di masa depan kalau mereka suka membaca.

>Olahraga leher

Dijaman yang serba canggih ini hanya satu yang tidak bisa ditiru robot adalah menulis, perlu jutaan tahun mungkin untuk robot supaya artificial Intelegent (AI)-nya bisa menemukan ide supaya membuat sebuah kreasi, maka sebelum AI itu ditemukan, para penulis pekerjaannya masih bisa diselamatkan.

Saya Mario Mandzukic, melaporkan dari Ujoeng Leubat.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *