Sekelebat Penggalan Secuil Kisah di Gampongku

Saat-saat dimana tak tahu menulis apa, kata Ade Oktiviary, tulislah yang terdekat dengan kita, yang kita kuasai yang kita bergelut di sana lama, atau yang kita benar, benar cinta. kali ini saya merindukan masa-masa bersama teman-teman masa kecil, mencari ikan di sawah, mandi di kali gampong dan bersama-sama ke pengajian. masa di Gampong yang tak bisa terulang, maka saya sedikit mengenangnya dengan menuliskan ini.

Gampong kami terbagi kedalam empat bagian; Barat, Timu (timur)  tunong (selatan) dan Balee sukon. Aku tinggal di Timu disini  ada 5 rumah. Rumahku, Rumah Abua Juned, Rumah Abua hasan, Rumah Chik Englen dan Rumah Mibon. Rumahku di tengah,disamping rumahku Rumah Chik Glen di belakang rumah kedua Abua Juned dan di depan rumah Mibon.

Yang Patah dan yang bertahan

Mibon di depan rumah beliau  pohon mancang yang sangat besar dan legendaris di desa kami. Tingginya mungkin sekitar Sembilan meter, mekar seperti pohon beringin. Disinilah tempat tupai bercengkrama, tempat manusia-manusia menganga ke angkasa kalau pohonnya sedang berbuah. Beberapa orang pernah luka bibirnya karena terlalu terburu-buru makan buah ini, buah mancang ini guys kalau tidak di kupas  kulitnya bisa mengakibatkan luka bibir. Kalau berbuah, tupai dan warga tidak bisa mengabiskan. Buahnya terlalu banyak terbuang di tanah dan memerlukan para batman dan badwoman (kelelawar) untuk membantu melenyapkan semua buahnya.

Rumah Orang-orang Tua di Gampong

Beliau yang pertama meningalkan kami semua, Mibon. Nama lengkapnya Mi Sabon. Masa tuanya dia hanya duduk di atas balai bambu di bawah rumah Aceh dengan sebilah tongkat. Di sudut rumah Aceh itu juga ada pohon Sahur (Bak Sawo) yang dulu aku pernah waktu kecil saat sahur nangis karena aku meminta buah ini saat keluarga sahur. Aku pikir dulu sahur harus makan buah ini. karena kalau tidak puasa tidak akan sah. Sungguh begitu tinggi rupanya keilmuanku waktu kecil.

Chik Englen. Bernama lengkap Chik Taleb. Adalah manusia yang lucu di dunia ini. beliau selalu ceria dan suka bercanda. Yang paling lucu adalah waktu shalat waktu itu. Kami (nanti saya jelaskan siapa-siapa saja) masih SD kalau gak salah. Berdiri di saf anak-anak. beliau pas berdiri di saf orang dewasa di depan kami. Beliau kentut panjang sekalidan bunyinya unik seperti balon di lepas anginya tapi kita jepit ujungnya. Dua saf belakang rusak dan tertawa terbahak-bahak di mulai oleh saf anak-anak.

Illustration

Setiap lebaran beliau pasti berjualan rujak yang sangat enak di depan rumahnya. Beliau meninggalkan kami saat tsunami. Saat itu beliau sedang berjualan baju di Banda Aceh, beliau bersama seorang anaknya yang berprofesi sebagai penjahit sepatu di belakang masjid Raya. Hanyut tanpa di ketahui dimana jenazahnya.

Abua Juned bin Kadir, Ayahnya Tgk. Kadir adalah Imam menasah Kharismatik di desa kami, begitu juga anaknya. Tapi tidak cucu-cucunya. Salah satu cucunya adalah Maimun (salah satu dari kami) sepeda beliau sering aku pinjam untuk berjalan-jalan di sekitar kampong. Karena sepeda onta beliau paling enak untuk di naiki. Saya bersama Maimun sering ke Bale sukon mengunakan sepeda ini. tapi selalu saya yang dayung dan Maimun yang membayar kopi. Karena tempat paling enak ngopi di desa kami ya disana.

Kiri ke Kanan: Adi, Maimun dan Taufik, kawan seperjuangan di gampong

Ayahnya Maimun, Beliau juga sudah dipanggil Ilahi zuhur kemarin (17-4-2013) meninggalkan beberapa orang anak yang semuanya sudah sukses di pekerjaannya masing-masing. Meninggalkan kami semua, setelah minggu (14-04-2013) aku dan Adi (anggota geng kami pemuda Gampong ini) berkumpul bersama beliau bercanda dan bertanya kami kapan menikah. Beliau mengatakan anaknya semuanya sudah menikah, Maimun sudah punya satu anak. Si Humaira (6).

Di Gampong kami, Mee Tanoh tersimpan banyak cerita, disinilah kami masa kecil belajar sepeda, belajar berenang dan belajar Alquran. Kini semua teman seperjuangan di desa sudah besar dan meninggalkan Gampong, merantau dan hidup bahagia bersama istri-istri dan anak-anak mereka, kecuali saya, masih juga tinggal di Gampong.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *