Sekelebat Keseruan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7

 

Saya ke PKA beberapa jam sebelum pembukaan di hari minggu (6/8/2018). Sungguh bahagia rasanya karena belum ramai sekali. Saya masih bebas berkeliling stand di taman Sultanah Safiatuddin. Taman yang sudah diberi nama ratu Aceh di masa kerajaan ini sudah menjadi tempat agenda lima tahunan Aceh ini. Dulu PKA sebelum Tsunami masih digelar hanya di Blang Padang.

PKA tahun ini melakukan ekpansi luar biasa, tidak hanya di Taman Safiatuddin, 14 lokasi disiapkan untuk mengakomodir perhelatan hiburan rakyat 5 tahun sekali ini. Yang saya lihat sementara ada di Mesium Tsunami, Blang Padang, Taman Budaya, Hermes Hotel, Kuburan Kerkof, stadion Lhong Raya, lapangan Tugu, Taman Sari dan banyak lagi yang nanti mungkin bisa pemirsa lihat via Video promosi. PKA Kali ini mengusung tema “Aceh Hebat dengan Adat Budaya Bersyariat”

Hebatnya PKA ini semua kabupaten di Aceh menjadi satu tanggal 5-15 Agustus ini, mereka berkumpul menampilkan karya terbaik mereka baik seni, kuliner, budaya, wisata dan lain-lain yang dianggap perlu ditampilkan. Misalnya semua tarian yang khas daerahnya, semua akan diberikan kesempatan menari di panggung-panggung yang disediakan. Di taman Sulthanah Shafiatuddin ada dua panggung besar di depan dan di belakang yang dinamakan panggung utama.

Saat  tinggal di Banda Aceh, saya setiap kali PKA suka memutar-mutar stand.. eh salah kalimat, suka berkeliling melihat stand, bertanya-tanya pada penjaganya ini apa-ini apa dan ini bagaimana cara kerjanya kalau ada alat-alat yang saya tak tahu. Tapi karena datangnya kali ini kecepatan. Jadi hanya putar-putar dan foto-foto saja, tanpa bertanya apa-apa.

(source)

Di dalam stand yang wajib ada adalah pelaminan. Dari 100 tahun lalu sejak PKA, selalu tampilan stand ada pelaminannya, kalau tak ada pelaminan khas daerah maka stand dinyatakan tidak sah. Selain itu ada peninggalan zaman dahulu dari kabupaten setempat, ini sangat menarik untuk dilihat, dan apabila ada penjaga barang-barang antik ini saya akan berlama-lama mengupas tentang benda ini. Ada pedang di stand Aceh barat, yang bisa dilipat di pinggang dan para pejuang Aceh bisa menusuk penjajah belanda dulu hanya dengan melepas kunciannya saja. Ada juga mata uang Aceh jaman baheola dan barang antik jaman dahulu lain yang saya lupa.

(Source)

Di gedung Arsip dan Perpustakaan  ada workshop menulis cerpen, public speaking, hingga workshop jurnalistik yang akan diisi oleh para praktisi berkompeten di bidangnya, saya menawarkan diri untuk promosi steemit di sini sama bang @rismanrachman, tapi entah jadi. Di Arpus ini juga banyak buku yang bisa dibaca dan dibeli karena tiba-tiba Arpus bekerjasama dengan Gramedia selama PKA-7.

Pameran Kuliner Tradisional Aceh juga terjadi di PKA ada di taman Ratu Shafiatuddin, tapi karena saya kecepatan pergi kesini, saya belum sempat makan apa-apa.

(Source) Why Gajahnya nangis?

Ada beberapa masalah yang terjadi di Sosial media orang beritakan, dari parkir yang mahal, sewa lapak yang mahal, ada mati lampu dan kurang terang saat pembukaan. Maka dari sekelumit masalah itu semoga cepat diperbaiki oleh panitia. Sementara kita mari menikmati selagi bisa, kalau tak mau berdesak-desakan pergilah sekarang, pagi atau siang, atau malam kalau mau lebih banyak orang. Patut kita apresiasi pada dinas terkait yang mau meneruskan program positif ini, bagi daerah yang maksimal dan mempercantik stannya sebaik-baiknya. Kalian luar biasaa! Bagi kabupaten yang stannya hanya dua warna, dan punya masalah dengan para peserta seni yang tidak diantar-jemput, berbenahlah mulai sekarang, kami siap disini untuk dipanggil kapan saja perlu, asal sabtu-minggu.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *