Satu Malam setelah Raja Ditangkap

 

Untuk prolog cerita ini, saya mau membagi tahu tiga segitiga yang dibutuhkan manusia, segitiga pertama adalah kekayaan, istri dan rumah tinggal yang layak. Itu perputaran segitiga pertama. Segitiga kedua adalah ingin populer, dikenal orang, terkenal, ngartis atau punya jabatan yang bisa dilihat dan dikenal semua orang -mugkin tahap pertama  di daerahnya. Sedangkan segitiga ketiga, ini yang paling penting dan yang paling diinginkan manusia, tapi saya sudah lupa segitiga apa, apa warnanya, apakah merah marun, saya lupa, saya lanjutkan ke cerita saja.

(Source)

Kerajaan federal  Ceha dihebohkan oleh peristiwa di satu malam. Berada dibawah kerajaan Santara yang punya tentara khusus bernama Kapeda, menangkap yang mau mereka tangkap. Beredarlah kabar tentang raja yang bukan-bukan, mungkin saja yang iya-iya tapi tanpa penelitian ilmiah yang jelas, membuat berita ini simpang siur, simpang mesra dan simpang lima.

Tahun ini belum ditemukan mobil, hanya kereta kuda andalan untuk transportasi, kami para peminta pajak harus menempuh perjalanan jauh untuk mengumpulkan upeti dari gampong ke gampong, sampai kadipaten ke kadipaten.

Saat kami duduk di kereta kuda milik kerajaan. Aku bersama Ilhama, bersama, Alfata, Tana, Mardira dan Rafata mereka berkelakar tentang lima aib raja. Tana bilang, Raja itu membiarkan permaisurinya ikut campur dalam urusan kerajaan. Alfata berkata Raja itu makan sendiri uang rakyatnya tanpa membagikan pada menteri dan pengawal-pengawalnya. Mardira berkilah dia raja sudah sangat congkak dan mencari banyak musuh di pasar.

(source)

Aku terduduk di depan bersama sais membetulkan kuda supaya baik jalannya. Aku juga angkat bicara kalau seseorang yang berkata kasar, pasti ada bayangan gelap yang disembunyikan. Ilhama juga ikut meneruskan, katanya saat raja dibutuhkan oleh pasukan yang mengkudeta raja Zakara dulu, semua pasukannya saat mereka menuntut jerih setahun dua kali, sang raja kabur ke istana lain.

“permaisuri yang mana yang dilibatkan ke urusan kerajaan?” tanya Rafata.

Kami hanya tertawa karena dia memang tidak peduli masalah kerajaan. Tana lalu membeberkan sebuah rencana. “Bagaimana kalau kita menculik raja malam ini juga, supaya dia tidak dibawa ke kerajaan Santara untuk diadili?”

“Gila kamu!” Jawab Rafata panik.

“Pasukan Kapeda itu bukan orang biasa, mereka para ahli dan dilindungi ninja-ninja terhebat kerajaan Santara! Mereka punya persenjataan lengkap untuk melumpuhkan siapa saja yang menghalangi mereka bertugas”

“Yasudah, tidak jadi” cetus Tana sambil mengalihkan pandangannya ke jalan.

(Source)

“Tapi strategi raja memenangkan pemilihan raja itu keren” Ilhama mengganti topik pembicaraan.

“Raja bukannya tidak dipilih?” tanyaku

“ini cerita fiksi” jawab Ilhama

“kita punya selatan, barat, timur, utara dan kerajaan pengacau yang punya banyak calon raja masa itu dan dimanfaatkan oleh raja yang ditangkap” Ilhama berhenti sebentar di tempat penjual tebu, kami semua turun dan memesan minum dan duduk melanjutkan  pembicaraan. Ilhama melanjutkan penjelasannya.

“Raja sebelum terpilih memecahkan suara rakyat sepecah-pecahnya sehingga raja lama Zakara tak bisa menang, kerajaan pengacau mencalonkan tiga raja, termasuk penasehat yang sudah lanjut usia, dipanas-panaskan untuk maju sebagai calon. Kerajaan Pengacau pecah dan memang tak bisa bersatu dari dulu, orang-orang kerajaan lebih memilih ke luar supaya bisa memajukan negara lain, karena didalam diisi para kabinet yang kadang tak mau menerima ‘singa’ baru.

(Source)

Ilhama meneguk air tebunya dan melanjutkan, setelah itu utara yang basis pendukung raja lama, Utara adalah daerah sulit ditaklukkan. Seorang calon raja yang pintar, tapi tidak cukup pintar menolak orang kepercaan raja baru yang disusupi untuk  berkampanye mendukung calon raja yang pintar ini tapi membelot lagi ke raja lama di detik-detik akhir pemilihan, sehingga membingungkan para pengikut raja pintar yang sudah niat memilih.

Clank!!!

Tana membanting gelas ke meja dan pecah. Dia bangun dan berorasi

“ini penghinaan seenaknya mereka menangkap raja kita! Tak sadar mereka Santara itu dulu karena kita Santara itu berdiri sampai sekarang!”

Aku menariknya duduk dan membayar segala kerugian, dan mengisyaratkan Ilhama untuk menyiapkan untuk melanjutkan perjalanan.

Rafata membalas “Tak mungkinlah tak salah ditangkap Tan! Pasti pasukan Kapeda menangkap sembarangan tanpa bukti yang jelas!”

“Cukup!” kataku, “jangan dilanjutkan lagi.” Ini sepertinya sudah cukup satu postingan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *