@Sangdiyus Menyuruh Saya Menonton  Padmawati 2018

Beliau dalam kurung sang Diyus, dibulatkan a keong di namanya dan tidak dispasi seperti judul, kalau kawula muda mau mengecek dia siapa dan tulisannya yang perlu kita pahami setelah dibaca berulang. Beliau saya berjumpa baru dua kali dalam seumur hidup saya.

Pertama kali adalah dia gondrong, berjaket abu-abu dan duduk bersama teman-teman steemian di bibir danau laut tawar. Saya duduk agak sedikit jauh, mendengarkan. Dia sedang berbicara tentang gunung-gunung yang didakinya sambil menunjuk-nunjuk gunung yang terlihat dari semburat subuh yang membuat danau dan gunungnya semakin terlihat di pagi yang danau laut tawar paling banyak di foto untuk dijadikan konten di Steemit, termasuk ketua Chapter Pidie, menjadikannya wallpaper.

(Source)

@sangdiyus kemudian berbicara tentang warung kopi surat kabar, lupa saya apa nama warungnya, katanya duduk disana kita akan mendapat semua kabar dari Gayo, kalau kita duduk di warung itu. Kata orang beliau nulisnya bagus, filosofis dan ber-nas. Salah-satu tulisannya Jangan Beragama melalui kalkulator mendapat respon paling banyak di kotaku, aku dan @akbarrafs berusaha meluruskan pemahaman yang bertanya kepada kami, siapa @sangdiyus dan kenapa dia menulis seperti itu, kalau tidak kami luruskan mungkin akan terjadi demo besar-besaran di kantor gubernur. #lebay

 

Setelah seminggu beliau di Banda Aceh, saya akhirnya bertemu lagi. Sebenarnya lebih banyak orang yang lebih penting untuk saya temui, tapi karena datang dari jauh beliau saya hargai. #emangsayasiapa. Saya duduk sedang dengan Ikhsan Maulana  (@lontuanisme), yang sudah berpindah satu kali karena kata Iksan saat mati lampu dan genset dihidupkan “kami mencari ketidakbisingan, malah dapat kebisingan.”

Jadi kami pindah ke depan, di Warung CN Premium, paswordnya Narukok. Di seberang jalan tertancap Gramedia, mbak-mbak Aceh bercelana jeans ketat dan baju dinas semi oblong bertulisan Gramedia. Mall buku itu seakan-akan memanggil saya dan berkata…’mas…ayo ke lantai dua… beli buku… di Sigli gak ada buku gini….

Panggilan itu saya abaikan dan saya duduk membelakangi Gramed. Saya dan Ikhsan berbicara tentang hal yang tak mungkin saya saring eh, maksud saya Sharing, karena belum ada izin dan mungkin tak cukup kertas.

@sangdiyus tiba disana, dia memakai jersey Barcelona dan dia mengeluh soal mandi, katanya gak enak mandi di Banda, airnya panas. Kenapa gak mengaku saja kalau memang dia malas akan hal itu, tak usahlah mencari-cari alasan.

Yang mengejutkan dia mengatakan kalau film Padmawati (2018) itu film bagus, padahal saya sudah duluan bilang sama @akbarrafs kalau film yang sudah dia resensi itu membosankan. Saya pulang ke Sigli dan mengunduhnya, menontonnya  walaupun dua tahap. Gak sekali habis. Rupanya memang bagus. Saya jadi sedikit teringat film Troy dan film Raanjhanaa.

Iskandar Sani. Adalah sebutan untuk Alauddin Khilji. Komandan perang yang diceritakan disini yang berhasil mengalahkan tentara mongol. Film yang banyak adegan potong kepala ini bersetting masa zaman kerajaan era (vemvorosan kata). Saat itu kerajaan Islam di India komandan pasukannya Alauddin (Raja Islam), yang dia membunuh raja sebelumnya dan pesaing-pesaingnya untuk agar dianya menjadi raja.

Penampakan dek Fatmawati, yang kalau di Banda Aceh, jualan nasi ayam (Source)

Kemudian disisi lain ada kerajaan Hindu, Chotti oh bukan… Chittor kayaknya. Kerajaan yang ratunya bernama Padmawati ini dikatakan cantiknya seperti Cleopatra, tinggal di hutan dimasa mudanya dan dinikahi oleh Raja Chittor, Padmawati diperankan oleh Deepika Padukone, yang menyelamatkan banyak film india gagara aktingnya yang keren walaupun kadang-kadang ceritanya ngawur.

 

Film ini hampir tiga jam dan karena kata @sangdiyus “dipenuhi adegan-adengan yang menakjubkan” saya nonton sampai habis. Ya sih beberapa adegan mengagumkan, kalau mengagumkan menurut Diyus boleh saya artikan kejam. Saya merekomendasi film ini untuk dinonton tapi jangan baper, jangan pulak nantik bilang raja islam itu kejam dan serakah. Ending film ini tak tertebak, seandainya dimasa kerajaan di India itu ada pemadam kebakaran yang sangat cepat bekerja, mungkin ending film ini akan berbeda.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *