Saheba…oh…Saheba..

 

Setelah kedatangan anak baru, suasana kemudian berubah. Bintang sekolah yang dulu diampu oleh Emina, kini ada anak baru yang lebih membuat siswa cowok penasaran, Saheba. Sedikit tentang Emina, yang sudah menjadi seleb sekolah. Dia ya tentu saja cantik, kearab-araban dan sedikit kurang dalam ilmu pengetahuan, sehingga dia mau saja berbicara dengan banyak laki-laki dan menertawakan apa yang mereka bicarakan, humor-humor garing dan sudah kadarluarsa, bahkan tak lucu, bisa membuat Emina tertawa.

Saheba adalah gadis intelektual yang pemilih. Wajahnya kalau kita lihat dari jauh seperti winni the Pooh versi manusia, matanya dan pipinya, hidungnya tetap bentuk hidung manusia, alisnya sama tebal, dan tatapannya serius. Daripada berbicara banyak tak berfaedah ala Emina Saheba memilih diam, jangankan untuk didekati laki-laki, teman sekelas yang cewek saja takut-takut suka (yee-yee galak) mendekati dia. Saat jam istrirahat saja dia aman-aman saja duduk sendiri, sedangkan siswi lain pasti duduk dengan dua, tiga orang teman, kalau tidak mungkin takut disangka tak punya teman, tapi Saheba aman dia dengan sebungkus minuman duduk sendiri memandang kolam di halaman sekolah.

Emina sudah berpacaran dengan seorang kakak kelas yang lumanyan keren, Maun. Walaupun banyak cewek lain yang diganggu oleh Maun, tapi Emina tak peduli, karena dia juga begitu. Aku sebagai murid kelas satu, heran, kenapa aku tidak populer. Apa karena aku tidak suka mandi dulu kesekolah, atau aku tak punya bakat apa-apa.Padahal banyak menurutku, siswi yang baru masuk ini yang keren-keren, tapi kenapa cowok tak ada yang suka. Kenapa trending topiknya Saheba.

Bulan-berganti tahun, belum juga aku mengerti kenapa Saheba jarang mendapat teman, apalagi pacar. Aku saat itu sudah rajin mandi, karena ada peringatan dari pihak kebersihan sekolah, kalau tak mandi di saat masuk sekolah, akan dimandikan dengan air siram tanaman. Aku mendekati  Saheba di kursi kantin dan menyodorkan coklat.

Dia membelalakkan mata ke arahku “Ngapain kamu kesini?” dia memicitkan mata

“maaf saya juga kayak kamu, tak punya kawan” kataku

“Kita beda, kamu tak punya kawan, karena tak ada tak ada yang bisa diandalkan dari kau, aku tak punya teman karena aku sanggup hadapi semua sendiri’

Aku terduduk dan menyerumput teh dingin dalam mug.

“aku selektif dalam memilih kawan, yang bermanfaat dan nyaman, gak kayak kamu, siapa aja kamu kawanin, gak punya prinsip”

Aku menyerumput teh lebih dalam dan sekarang sudah bersuara. Saheba sekarang diam dan masih memandangku tajam, mungkin menunggu kata-kataku.

“a.a.aku tidak pilih kawan-kawan karena aku pikir semua orang dasarnya baik, dan..kalau tak baik sekarang, mungkin dia baik dimasa depan” aku membetulkan duduk dan dengan santai meletakkan tangan diatas meja dan memulai pidato.

“Selama belum 30 tahun, manusia bisa berubah, bisa jadi yang bodoh sekarang menurut mu, akan pintar dikelas selanjutnya nanti, demikian juga yang pintar, bisa jadi bodoh kalau dia tidak terus belajar.”

“Hmm…lalu?” Saheba mulai mendengarkan.

“Kalau kita terlalu banyak memilih teman, maka tak akan ketemu nanti teman sampai kelas tiga yang sempurna, kita harus menerima kekurangan teman-teman kita, karena itu kita berteman untuk memaklumi kekurangan mereka,”

Saheba merampas coklat di meja dan berlalu pergi, tapi dari tatapannya, mungkin dia akan menjadi manusia berbeda besok, mungkin menjadi lebih ramah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *