Maafkan Aku Avengers, Aku Lebih Memilih Kampungku

Bagi orang mungkin berbakti di Gampong setelah kuliah di kota besar adalah mimpi buruk, Pidie sebagai suku perantau, memilih ke luar daerah kalau sudah akil balig. bagi beberapa kalagan,  kalau kita buat hirarki yang sempurna mungkin begini, SD di Gampong (tingkat gampong), SMP di kota kecil (tingkat Kecamatan), SMU di kota besar (tingkat Kabupaten), kuliah di  ibukota/luar negeri dan terakhir mati di luar angkasa. Siklus hidup yang kita jalani memang naik turun pertama kita sekolah di gampong, lalu tidak bisa kuliah karena tidak cukup biaya. Keadaan pada kalimat yang pertamalah yang harus aku jalani sementara, pulang kampong. Harus bergaul dengan sapi-sapi di jalan, kerbau-kerbau yang juga di jalan yang harus kita kepinggir karena mereka baru saja pulang berkubang.

Padi menghijau di sawah, di angkasa elang putih kepala berputar-putar melihat dengan sigap apakah ada ular di pematang sawah, ohh..petani yang tidak bisa computer, tidak tahu twitter dan bukan facebooker. Mereka setelah subuh sudah kesawah tanpa harus mata bengak karena semalaman melihat timeline mantan. Ohh.. petani yang tak tahu komputer, yang tidak pernah memakan pizza, mereka sangat berbahagia.

Di relung-relung irigasi ikan gabus berlari, menghindari ular sawah yang mengejarnya. Ikan krueb, ikan greu, ikan seungkoe, ilis, kepiting dan udang hidup tentram dalam sungai irigasi. Irigasi airnya kini kuning karena sedang musim hujan, anak-anak petani sekarang sudah jarang yang mandi di sungai ini karena mereka tahu airnya tidak baik untuk badan. Orang-orang Gampong bukanlah orang bodoh yang bisa di stir kesana-kemari.

Kuberdiri di atas saluran irigasi dan sadar satu hal: kemiskinan bukan salah pemerintah. Kalau kita bekerja keras, kita akan kayak arena yang keraslah yang bisa bekerja kalau itu sambungannya. Masyaral muslimin dan muslimat, yang sudah kawin maupun belum sunat. Salah pemerintah itu adalah pembangunan peGampongan yang kurang. Saya berdiri disini kesal para petani yang sudah bekerja keras di sawah, harus bekerja keras lagi saat mereka mengangkut hasil sawahnya, mendorong mobil karena jalan ini tidak di aspal, jalan di depan kantor gubernur itu sudah berkali kali di aspal walaupun jalannya tidak rusak padahal yang melintas di situ bukanlah pekerja keras, sungguh berat diskriminasi ini.

Lalu kenapa Aceh barat selatan dan Aceh Lauser Antara ingin merdeka? Ya gara-gara ini; Pembangunan tidak merata, Di pedalaman Takengon orang masih tinggal di rumah-rumah kayu yang kecil bahkan ruko-ruko kota kecil disana masih juga berbahan yang sama. Maju hanya di teriakkan para politisi saat mereka kampanye tanpa menghadirkan bukti setelah mereka terpilih. Cuihh! Kepada para penipu itu.

Kenapa jadi tulisan politik ini? Padahal saya hanya mau mengambarkan kehidupan Gampong saja disini, ini pasti gara-gara spanduk dan baliho wajah-wajah orang di jalan-jalan yang tersenyum Cuma untuk di baliho, dan nanti waktu kita pilih mereka, mereka akan memalingkan wajahnya dari kita, ahh…

Saya malah sudah sangat bersyukur bisa kembali ke Gampong. Bisa menyempurnakan ilmu kita dibagi untuk masyarakat, kalau dikota sudah cukup banyak yang seperti kita, mungkin terliterasi dengan baik secara pemahaman dan pemikiran. Alasan syeikh Ali Jaber meninggalkan Arab Saudi, karena katanya orang disana tak perlu lagi di dakwah, beliau ke Indonesia supaya ilmunya bermanfaat di sini.

Jusuf Kalla di debat kandidat presiden juga saat ditanya kalau kalah bapak kemana, beliau menjawab, saya akan kembali ke kampung saya, menjaga masjid.  Maka, pilihan hudip, itu terserah kamu. Mau berbakti dimana?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *