Kita (Bukan) Sea Going Iguana

 

Saya beberapa bulan –mungkin tahun- lalu menonton Planet Earth 2. Dalam episode pertama, ada satu binatang yang hidupnya sangat menegangkan dari sejak lahir. Sea Going Iguana –disebut namanya ini karena mereka mencari makanan biota laut, iguana kan biasanya di darat- yang dari bayi setelah menetas dia harus langung berlari ke bukit karang, supaya ular tidak dapat memakannya. Maka bayi-bayi iguana yang baru melek itu harus berlari kencang, padahal baru beberapa detik lahir, untuk berjuang agar hidup. Untunglah kita bukan binatang, dan ada ibu yang menjaga kita sejak lahir.

Marine -Sea going- Iguana (Source)

Manusia berproses, tidak ada yang langsung jadi yang dia inginkan sajak bayi –kan bayi juga belum tahu apa yang dia inginkan- maka sejauh apa kita terbangun untuk mengejar mimpi-mimpi kita? Kita bisa menjadi apa yang kita inginkan, kecuali kalian lelaki yang ingin menjadi polwan.

Sebagai Guru, saya teringat kata kakak leting saya, ingat katanya lupa nama kakaknya. Dia bilang memang diawal-awal kalau saat kamu belum bisa mengajar, kamu akan dikatai oleh muridmu, guru macam apa kamu? Tapi setelah latihan dan terus menambah pengetahuan dan jam terbang, kamu akan menjadi guru yang baik dan bisa mengajar dengan menyenangkan, selama kamu ingin terus belajar bagaimana cara mengajar yang baik untuk siswamu.

Tapi menjadi menyenangkan bukan berarti harus menyenangkan semua orang, pasti ada yang membencimu saat kamu sukses, disayangi banyak orang dan kamu nampak bahagia. Orang-orang yang iri, dengki dan tidak baik hatinya ini tak usah diladeni. Kalau membetulkan semua orang sesuai dengan apa yang kita inginkan, pasti tak bisa, kita hanya perlu membetulkan hati kita, untuk menerima, memaafkan teman-teman yang saat ini iri pada kita, dan mungkin suatu saat nanti kita akan disayangin mereka, tetap be positif.

Menyoe get niet dan kasat, berangkapat han binasa. Pepatah Aceh ini berarti kalau niat dan maksud kita baik, dimana saja kita tidak akan binasa. Saat Bang Mansur (seorang sahabat Ayah saya) dipercaya sebagai pengantar telur oleh sebuah perusahaan, selama bertahun-tahun dia baik budi dan lucu dan tak pernah membohongi tokenya. Sehingga saat toke (pimpinan perusahaan) bangkrut. Dia tetap dikunjungi walaupun sekarang sudah menjadi pemetik kelapa.

Lain lagi dengan Bang Odeh, saat sebuah perusahaan mempercayanya memegang uang perusahaan, dia memilih lari dengan mobil perusahaan ke Medan –dia orang Aceh- lalu tinggal disana dengan penuh rasa was-was, takut polisi dan tak bisa pulang lagi ke Gampongnya. Maka manakah kita pilih? Hidup sederhana tapi baik, atau hidup kaya tapi sengsara, tentu saja kita pilih hidup kaya tapi baik.

Bang Mus juga orang yang baik, walaupun agak kasar bicaranya. Dia dipecat dari sebuah perusahaan mobil air, malas sedikit bekerja dan perusahaan mobil air tak ada orang lain, maka terpilihlah dia menjadi supir, akibat malas, dia suka pindah-pindah kerja.

Selama berpegang pada tali Allah dan sunnah Rasul kita tak akan sesat selama-lamanya, saat GPS kita tak berfungsi maka kembalilah ke jalan yang benar. Kehidupan dunia memang seperti penjara bagi kaum muslimin. Kita bukan berasal dari bumi, tapi dari syurga, kesanalah kita akan menuju kalau kita orang yang baik, karena yang jahat, kalau dimasukkan ke syurga, maka akan merusak syurga. Seperti yang suka membunuh, menghasut, menzalimi orang, maka akan susah masuk syurga kalau tidak bertaubat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *