Celaka Enampuluh

Saat sedang menggali lubang untuk pipa di depan rumahnya, ibunya berkata kepada kami pekerja yang berjumlah empat orang.

Para Penggali Got, yang mana yang Jawa?

“Anak saya boleh pacaran asalkan tidak hamil” ibu paruh baya yang gendut itu dengan dasternya, berdiri di depan pagar, sambil melihat kami yang sedang bertahan hidup dengan bekerja begitu keras, aku memakai sebo, karena aku malu bekerja seperti ini. Mungkin yang ibu ini tuju atau arahkan supaya anaknya boleh dengan siapa saja disini maksudnya adalah mandor kami. Yang klimis, rambutnya undercut dan berbaju putih tanpa noda sedikitpun.

Hari kedua kerja kami sudah agak lewat dari depan rumah ibuk daster ini, kami sudah menggali di depan rumah toko seorang bapak yang sopan, dia berkulit putih juga anaknya yang sudah dua, masih SD entah TT, yang lucu-lucu membuat semangat bekerja.

Saat istrirahat kami diberi minum air sirup satu cerek dan pisang goreng yang dimasak istrinya, istrinya bilang “ayok Mas, jangan malu-malu, ini pisangnya dari kebun belakang rumah” aku membuka sebo dan melahap pisang.

“Saya Bang, bukan Mas, kami, satu orang dari Jawa, yang lainnya Aceh” kataku lalu meneruskan makan dan meraba gelas plastik untuk minum.

“aduh maaf, saya kira Jawa” jawab istri bapak sopan duduk di samping suaminya di depan ruko, tangannya memegang nampan, bekas gelas dan cerek.

“Ibu yang di rumah putih itu siapa buk” tanya mandor kami yang Jawa.

“Oh.. ibu Rina, lama dia di Malaysia, jadi pembantu rumah tangga disana, tahun lalu baru pulang”

“Oh…” kami menganguk-angguk sambil melanjutkan makan.

“anaknya suka gonta-ganti cowok dan…”

Tiba-tiba suaminya memijak kaki ibu sopan, sebagai kode supaya tidak cerita itu dilanjutkan, mungkin bapak sopan tahu, membicarakan orang lain itu dosa, bisa termakanlah semua pahala, yang sudah dikumpulkan di kebun belakang termasuk ini pisang.

Penggali Got, menikmati makanan dan mendengar ghibah ibu-ibu tentang dia

Tapi aku orang yang penasaran, setelah menggali lagi kedepan rumah lain. Aku bertanya pada anak lain, yang sebaya dengannya, siapa sebenarnya anak ibu Rina. Tahulah saya hari terakhir kami kerja. Anaknya itu model seksi, karena ibunya membebaskan dia. Dia sering ikut photoshoot dan pernah jadi model video klip.

Lama dia di Banda Aceh, kata orang-orang dia dibawa pria mantannya, ngakunya sih pencari bakat. Rupanya dia ditangkap dan masuk berita di koran. Setelah itu mamaknya malu dan mengurus supaya dia dibebaskan dan sekarang dia dikirim ke Malaysia, biar tak malu keluarga.

“jadi dia pernah jadi itu?” tanyaku penasaran.

“Iya, prinsip mamanya yang Abang bilang tadi, boleh pacaran asal jangan hamil mungkin itu, kan kalau gituan, kan gak hamil” ucap Adek ini bangga.

“Tapi Bang, gampong ini tidak malu gara-gara si itu saja. Banyak cerita lain yang membuat gampong ini malu sejak dulu, misalnya penemuan bayi, ada cowok di rumah cewek tengah malam terciduk sama ayah si cewek dan kasus yang tidak abang bisa bayangkan lain, ada satu orang bang, kayaknya cocok untuk abang,” terlihat wajah adek ini sangat bahagia saat mengucapkan ini.

“Berkasus juga?” tanyaku.

“iya bang, anak haram dia, tapi canteeeek kali, mau bang?”

Aku berpikir sejenak, dikepalaku muncul ilmu mawaris dan seakan-akan aku bersama seseorang dan di kiri kanan penuh hujatan.

“boleh sih, tapi abang harus lari ke Malaysia juga, biar jangan malu keluarga” kataku mengambil cangkul dan kembali bekerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *