Catatan Nemu di Laptop Tertulis Tanggal 8 February 2011

 

Tiba-tiba, tak tahu menulis apa, saya menemukan catatan harian saya di Laptop. lalu saya edit sedikit, makanya saya posting ini saja hari ini.

Komandan! Izin Melaporkan

Hari ini saya bangun jam 06.00 pagi lalu salat 2 rakaat kemudian memasukkan celana saya yang sudah sobek kedalam tas untuk di reparasi, rehabilitasi dan reboisasi di kampung,  satu celana hitam, sobek di selangkangan. lalu celana jeans sobek di bagian paha terakhir (hah?) blue jeans sobek di bagian kantong.rencananya mau saya suruh jahit sama adik atau bunda di Sigli.

Pagi pagi buta saya mengeluarkan motor saya dari garasi Nyakwa –panggilan  kepada adik dari Ayah-,lalu berangkat ke Sigli, jam 06:30 saya sudah sampai di jalan Banda Aceh-Medan, daerah Sibreh, matahari mulai naik dari sisi kanan Selawah Agam, sunrise yang sangat indah, matahari bewarna orange bulat  seperti telor dadar anak kosan bercahaya,di sekelilingnya cahaya berwarna merah sampai orange.

Udara sejuk dari tadi menggerogoti badan saya sekarang terasa makin dingin, saya masih berjalan pelan di daerah Indrapuri, saya mendapati adik letting saya Ody sedang berlari pagi dengan temannya di seberang jalan.

Saya memutar arah lalu bercakap cakap tentang kuliah kapan bayar SPPnya dan lain-lain yang di anggap perlu.

Lalu saya memutar lagi kearah Sigli, kabut tebal menyelimuti gunung selawah menyebabkan jarak pandang berkurang,saya pun mengurangi kecepatan, karena tidak mau mati muda karena belum wisuda dan mempunyai putra mahkota.

Seorang pengendara motor menghapiri saya dan berkata “hek ta Sms hana neubalah!” artinya capek saya sms tapi tidak anda balas

“Meu kukalen tan” artinya saya tidak melihat (sms dari anda) itu dia bernama Ismullah, kawan satu BEM 2007 IAIN Ar-raniry kami berjalan saling memotong sampai ke Saree lalu minum kopi dan makan tape serta timphan.

Usut punya usut beliau ada proyek di Lhoksumawe, saya tanya proyek apa dia malah tertawa, berbicara dan merokok sebentar (dia aja yang merokok,saya tidak) setelah dia yang bayar semua kami kemudian kembali tancap gas, meninggalkan adik-adik leting yang sangat berfaedah itu.

Saya sampai ke Sigli,cdia kearah Lhoksemawe, klakson dua kali saya memasuki kota Sigli,ckota yang begitu begitu saja,csangat minim perubahan, begini begini terus, kapan majunya, alah tak usah di bahas, saya lalu masuk rumah, buka sepatu mendapati mama dan adik sedang membungkus keripik untuk di jual di kedai-kedai di kota. –kehidupan lagi sulit, semasa jokowi, harga-harga naik, harga pisang naik turun, harga susu semakin naik dan harga kacang terjepit.

Saya gabung di sana mengeluarkan beberapa patah kata sambil menonton tv, acara Dahsyat di posisi pertama ada lagu Afgan dengan judul bawalah pergi cintaku.

Capek menonton Televisi saya pergi tidur, Azan Zuhur bangun dan pergi solat lalu nonton Tv sebentar kemudian ke tukang Kusuk,mengobati terkilirnya jempol kaki kanan karena tidak pakai sepatu sewaktu menendang bola, sudah sebulan belum sembuh juga,

Selesai itu artinya Lheuh nyan,saya tergoda untuk solat Asar di Masjid maka solatlah saya.

Setelah itu saya ambil laptop ini dan menulis ini, lalu laporan selesai Komandan!

Sedikit Saran Untuk Panitia Pekan Kebudayaan Aceh ke-7

 

Pekan Kebudayaan Aceh tinggal menghitung hari atau saya bilang terus, dua hari lagi sudah ditutup. Dihari pertama sudah ada energi negatif yang tersebar ke media sosial, malah sudah ada sebelum dibuka. Misalnya toilet perdesaan terbangun di bantaran sungai, harga parkir mahal dan kesalahan kalimah ilahiah di pintu gerbang.

Kami (masyakarat Pidie) kecewa juga dengan stand kami sendiri. Yang isinya kurang banyak padahal banyak sekali potensi yang musti ditampilkan di pergelaran limatahunan provinsi ini. Tapi saya cukup puas setelah melihat stand lain juga sempurna dengan kekurangan-kekuarangannya.

Shiny Stan

Saya membawa adik saya ke tiga stand, supaya dia tahu apa yang ada disana, dan setelah tiga stand saya menjelaskan padanya, ini sudah cukup mewakili perjalanan kami hari ini. Di stand itu yang wajib ada adalah Pelaminan, @hayatullahpasee mengatakan hal yang lebih ridiculus –apa ya bahasa indonesianya, menjijikkan kayaknya- tentang pelaminan ini, dia bilang sangat aneh perilaku masyakarat yang berfoto di pelaminan stand. Seperti yang berfoto ini tidak pernah melihat pelaminan semasa hidupnya atau belum pernahkah mereka berdiri foto (dong foto) di depan pelaminan. Bisa kita maklumi kalau mereka berfoto di pelaminan yang unik, misalnya di stand Singkil dan stand –stand apa lagi yang belum pernah dilihat pelaminan yang unik- itu bolehlah foto, tapi ini pelaminan yang biasa kita lihat di pernikahan biasa, kenapa foto lagi disitu?

Setelah itu yang kedua yang wajib ada adalah benda kuno. Baik Alquran berusia ratusan tahun dan mushaf kitab lain, benda-benda kuno, foto bupati/walikota dari masa ke masa dan kerajinan tangan. Apa ini kualifikasi atau stand boleh mengkreasi sendiri standnya. Saya bermimpi suatu saat nanti stand pameran tak ada pelaminannya. Ini saya katakan bukan karena saya belum menikah, tapi seriusly?  Sudah 30 tahun saya melihat pameran, selalu ada pelaminannya asal daerah di kasih buat stand, apa tak ada lain?

Tapi saya sangat  bersyukur kali ini komunitas pemuda juga diikutkan dalam PKA, di Taman Budaya ada festival mural dan lukisan, kita bisa melihat kepiawaian seniman kita menghias dinding. Yang saya lebih salut lagi adalah stand di Mesium Aceh, ada Lueng Putu Manuskrip –yang  diprakarsai Masykur-, Tiro is me-nya Haikal Afifa dan stand MAPESA.

Saat pertama masuk saya ke Mesium yang disambut oleh lonceng Cakra Donya, saya masuk ke dalam mesium di dekat rumah Aceh dan memperkenalkan diri pada Masykur Leungputu Manuskrip. Dia menjelaskan panjang lebar tentang manuskrip yang dia temukan. Seakan tanpa titik dia menjelaskan segalanya yang tak kami tahu sedikitpun tentang peran manuskrip Aceh di masa lalu, seperti amaran seorang ulee Balang melalui sebuah surat tentang Belanda akan menyerang Sigli. Dia ,malah mengundang kami (saya dan Adli) ke rumahnya di Lueng Putu, kalau mau melihat lebih lengkap.

Masykur Lueng Putu Manuskrip (source)

Yah, sudah kemana-mana ini, padahal saya mau menyarankan untuk panitia PKA kedepan. Untuk perkabupaten, libatkanlah orang-orang yang kompeten, jangan cari untung saja, tapi tampilkan yang terbaik dari kabupaten kita, dengan mengajak seniman, para pemuda kreatif dan para pekerja kreatif, misalnya Pidie –menurut Zian- saat pawai mobil hias, banyak sekali dari Gampong mobil keren-keren yang juara, kenapa mobil yang dibawa ke PKA mobil sederhana dan dihias sederhana, kenapa tidak itu saja yang juara pawai di bawa.

Untuk mengurai kemacetan saya rasa panitia memisahkan mana jalan masuk mana jalan keluar, dan pedagang/petugas parkir janganlah mengkorupsi jalan untuk dijadikan lapak. Itu saja.

 

Teungku Rangkang, Kisah Para peyelamat Generasi Islam dari buta Huruf Alquran

 

Sederhana, tapi penting. Akbar Rafsanjani mengambil tema Teungku Rangkang menjadi sebuah film. Ditengah gembar gembor para caleg yang  tidak diluluskan karena tak bisa baca quran dan banyak mahasiswa yang juga tidak bisa membaca kitab suci ini. Para tim juri Calon Legislatif mengatakan, kalau quran saja tak bisa baca, bagaimana dia mengamalkan isi Alquran dalam kepemimpinannya.

Akbar membandingkan antara pembaca Alquran metode Bagdadi dan metode Iqra’. Metode Bagdadi dipercaya merupakan metode pertama dibawa oleh orang Abbasiyah, ini disebut oleh  yang pusat kotanya di Bagdad, makanya disebut metode Bagdadi. Atau metode Aleh ba.

Tgk Akbar (yang pegang Mik)

Film ini diproduksi tahun 2014 di Pidie , setiap Kemukiman bahkan gampong ada satu tempat pengajian, tempat anak-anak Aceh belajar membaca Alquran. Bagi masyarakat Aceh, mengantar anak ke tempat ngaji  dengan mengantar sekarung (sinaleh) padi untuk Teungku dan saat itu belum ada iuran resmi untuk mengaji dan semua guru ngaji diangungkan oleh seluruh santrinya.

Problem generasi muda tak bisa membaca kitab suci tidak hanya terjadi di dunia Islam. Para rabi yahudi juga mengalami fenomena yang sama saat ini, yaitu generasi muda yahudi malas dan bahkan tak bisa membaca kitab taurat (torah) yang berbahasa ibrani. Parahnya lagi masalah kebahasaan ini di India, para generasi bahkan artis India masa kini, ada yang tak bisa lagi membaca huruf Hindi/urdu, mereka sudah diajarkan berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris sejak kecil sehingga bahasa ibunya terpinggirkan.

Kisah para penyelamat  ini diambil di dua lokasi, yang pertama di Balee (bangunan dari kayu dengan dinding terbuka, Pria bernama Tgk Hanifuddin, mengajari anak-anak usia SD dari huruf Hijaiyah, Quran kecil (qur’an ubeut) sampai membaca mushaf Alquran (Quran Rayek). Dulu merupakan kebanggaan tersendiri bagi kita, kalau sudah naik tingkat ke bisa membaca Quran Rayek.

Sedangkan metode Iqra yang ditemukan oleh KH As’ad Humam diajarkan di Masjid Alfalah Sigli. Anak-anak sehabis Asar mengaji berkelompok berdasarkan usia dan level Iqra’nya ada 6 jilid Iqra dari level 1 sampai 6. Setelah level 6 selesai baru anak-anak bisa lanjut ke membaca mushaf Alquran. Saya tak tahu metode mana yang lebih bagus,karena saya baru bisa baca alquran setelah ikut tahsin di Darul Quran, dengan metode As-syafi’i.

Guru Darul Quran

Teungku Rangkang di Garap Muhajir bersama Akbar Rasfanjani –Akbar setelah film ini diputar sudah melekat di namanya Teungku Rangkang, untuk beberapa tahun dia malah tak dipanggil lagi Akbar. Mereka merupakan finalis Aceh Documentary competition 2014 yang bertemakan Soul of Culture.

 

Mimpi-mimpi yang Terwujudkan

 

@abahharuna yang bernama asli Ibnu Syahri Ramadan saat dia menjadi ketua FLP Banda Aceh, memberi secarik stiker kepada saya yang bertuliskan; Jangan mengaku penulis kalau tidak punya buku. Stiker itu saya tempel di laptop dan entah kenapa saya melihatnya setiap membuka laptop, mungkin karena saya menempelnya di sana. Itu tidak dinyana menjadi motivasi saya menulis, setiap membuka laptop. Setelah menonton film di laptop, saya terpacu untuk menulis resensi. Setiap ada kejadian aneh disekitar, saya buat juga laporannya. Setiap dosen suruh revisi, saya jadi malas membuka laptop, oh itu tak ada hubungannya.

 

Pertama kali menulis, saya ragu dengan tulisan saya, bagus apa tidak. Rupanya setelah teman-teman baca, memang tulisan saya diakui mereka sama sekali tidak bagus. Tapi walaupun tidak bagus, saya tidak menyerah. Tak ada kata menyerah dalam kamus saya, kamus yang ada di rumah saya kamus bahasa inggris 1 milyar kata.

Lalu setahun setelah tertempel stiker itu, saya punya satu buku yang sampai sekarang belum habis terjual yaitu buku OMG My Mom. Dicetak entah 500-1000  buah dengan penuh semangat oleh anak-anak FLP, tapi tidak jadi best seller karena mungkin minat baca Aceh tinggi, tapi minat beli kurang.

 

Tidak bangga dengan satu buku, saya mengompori direktur Sukma Bangsa Pidie, Marthunis Bukhari dan guru bahasa Indonesia Muchlisan Putra yang sedang membuat buku guru dan murid untuk saya bantu edit, bantu kasih ke desainer layout, bantu jumpai penerbit  dan berkah dari ikut campur itu, saya disuruh tulis kata pengantar. Maka dianya adalah sebuah pasal pada menyatakan saya numpang nama di buku itu. Alhamdulillah.

Malam ini akan ada satu buku lagi yang berhasil ada nama saya di dalamnya. Buku yang berjudul Pernak Pernik Pidie (P3) ini dibuat susah payah oleh penulis-penulis muda berbakat Pidie. Walaupun dikatai oleh bang Murizal Hamzah anak muda Pidie tidak kreatif, kami tidak marah dam malah termotivasi untuk lebih giat lagi membuat diri kami kreatif.

Buku ini berisi puluhan tulisan tentang Pidie, baik dari segi budaya, tempat wisata, adat dan filosofi orang Pidie. Kenapa orang Pidie pelit dan kenapa mahalnya mahar gadis mereka. Semua di kupas di sini. Yang puas sekali saya adalah saya jadi membaca lagi, meneliti lagi tentang kereta api Aceh.  Jadi saya bertanya lagi sama @zianmustaqin apa yang dia tahu tentang KA Aceh dan dia menjelaskan sedikit, tapi tulisannya banyak di buku P3 ini tentang kereta api, banyak katanya, tulisannya cuma satu.

Pak @emsyawwal menuliskan tentang Halua Bluek, makanan favorit saya. Halua adalah makanan manis, campuran tepung dan gula dan dimasak sedemikian rupa sehingga warnanya coklat kehitaman, biasa dipasarkan saat hari meugang dan hari-hari lainnya tergantung mood orang jualan. Kerennya adalah ada satu bapak-bapak dulu yang merupakan saudara kami, dia berjualan halua keliling. Harganya tak mahal dan kuenya bukan seperti bakso yang laku setiap hari kalau di kelilingi..eh di bawa keliling, tapi dia tetap berjualan halua karena ini memang passion dia.

Mahar gadis Pidie juga dibahas di buku ini. Daerah Garot kampungnya @akbarrafs dan @shofie terkenal dengan gadis yang ‘mahal’ dengan mahar 20 mayam emas. Tapi dengan memberi mahar kita akan dapat rumah, sepetak sawah/tanah dan tidak mahal dengan makanan enak yang gadis Garot di doktrin oleh endatunya wanita harus pandai memasak.

Ada juga cover story, tentang kupiah meuketop yang menjadi cerita sampul. Kupiah yang dipakai oleh Teuku Umar, Panglima Polem dan kepala toples (ulee Balang) Aceh ini, katanya dibuat di Pidie. Benarkah? Dapatkan buku ini!

Kita (Bukan) Sea Going Iguana

 

Saya beberapa bulan –mungkin tahun- lalu menonton Planet Earth 2. Dalam episode pertama, ada satu binatang yang hidupnya sangat menegangkan dari sejak lahir. Sea Going Iguana –disebut namanya ini karena mereka mencari makanan biota laut, iguana kan biasanya di darat- yang dari bayi setelah menetas dia harus langung berlari ke bukit karang, supaya ular tidak dapat memakannya. Maka bayi-bayi iguana yang baru melek itu harus berlari kencang, padahal baru beberapa detik lahir, untuk berjuang agar hidup. Untunglah kita bukan binatang, dan ada ibu yang menjaga kita sejak lahir.

Marine -Sea going- Iguana (Source)

Manusia berproses, tidak ada yang langsung jadi yang dia inginkan sajak bayi –kan bayi juga belum tahu apa yang dia inginkan- maka sejauh apa kita terbangun untuk mengejar mimpi-mimpi kita? Kita bisa menjadi apa yang kita inginkan, kecuali kalian lelaki yang ingin menjadi polwan.

Sebagai Guru, saya teringat kata kakak leting saya, ingat katanya lupa nama kakaknya. Dia bilang memang diawal-awal kalau saat kamu belum bisa mengajar, kamu akan dikatai oleh muridmu, guru macam apa kamu? Tapi setelah latihan dan terus menambah pengetahuan dan jam terbang, kamu akan menjadi guru yang baik dan bisa mengajar dengan menyenangkan, selama kamu ingin terus belajar bagaimana cara mengajar yang baik untuk siswamu.

Tapi menjadi menyenangkan bukan berarti harus menyenangkan semua orang, pasti ada yang membencimu saat kamu sukses, disayangi banyak orang dan kamu nampak bahagia. Orang-orang yang iri, dengki dan tidak baik hatinya ini tak usah diladeni. Kalau membetulkan semua orang sesuai dengan apa yang kita inginkan, pasti tak bisa, kita hanya perlu membetulkan hati kita, untuk menerima, memaafkan teman-teman yang saat ini iri pada kita, dan mungkin suatu saat nanti kita akan disayangin mereka, tetap be positif.

Menyoe get niet dan kasat, berangkapat han binasa. Pepatah Aceh ini berarti kalau niat dan maksud kita baik, dimana saja kita tidak akan binasa. Saat Bang Mansur (seorang sahabat Ayah saya) dipercaya sebagai pengantar telur oleh sebuah perusahaan, selama bertahun-tahun dia baik budi dan lucu dan tak pernah membohongi tokenya. Sehingga saat toke (pimpinan perusahaan) bangkrut. Dia tetap dikunjungi walaupun sekarang sudah menjadi pemetik kelapa.

Lain lagi dengan Bang Odeh, saat sebuah perusahaan mempercayanya memegang uang perusahaan, dia memilih lari dengan mobil perusahaan ke Medan –dia orang Aceh- lalu tinggal disana dengan penuh rasa was-was, takut polisi dan tak bisa pulang lagi ke Gampongnya. Maka manakah kita pilih? Hidup sederhana tapi baik, atau hidup kaya tapi sengsara, tentu saja kita pilih hidup kaya tapi baik.

Bang Mus juga orang yang baik, walaupun agak kasar bicaranya. Dia dipecat dari sebuah perusahaan mobil air, malas sedikit bekerja dan perusahaan mobil air tak ada orang lain, maka terpilihlah dia menjadi supir, akibat malas, dia suka pindah-pindah kerja.

Selama berpegang pada tali Allah dan sunnah Rasul kita tak akan sesat selama-lamanya, saat GPS kita tak berfungsi maka kembalilah ke jalan yang benar. Kehidupan dunia memang seperti penjara bagi kaum muslimin. Kita bukan berasal dari bumi, tapi dari syurga, kesanalah kita akan menuju kalau kita orang yang baik, karena yang jahat, kalau dimasukkan ke syurga, maka akan merusak syurga. Seperti yang suka membunuh, menghasut, menzalimi orang, maka akan susah masuk syurga kalau tidak bertaubat.

Sekelebat Keseruan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7

 

Saya ke PKA beberapa jam sebelum pembukaan di hari minggu (6/8/2018). Sungguh bahagia rasanya karena belum ramai sekali. Saya masih bebas berkeliling stand di taman Sultanah Safiatuddin. Taman yang sudah diberi nama ratu Aceh di masa kerajaan ini sudah menjadi tempat agenda lima tahunan Aceh ini. Dulu PKA sebelum Tsunami masih digelar hanya di Blang Padang.

PKA tahun ini melakukan ekpansi luar biasa, tidak hanya di Taman Safiatuddin, 14 lokasi disiapkan untuk mengakomodir perhelatan hiburan rakyat 5 tahun sekali ini. Yang saya lihat sementara ada di Mesium Tsunami, Blang Padang, Taman Budaya, Hermes Hotel, Kuburan Kerkof, stadion Lhong Raya, lapangan Tugu, Taman Sari dan banyak lagi yang nanti mungkin bisa pemirsa lihat via Video promosi. PKA Kali ini mengusung tema “Aceh Hebat dengan Adat Budaya Bersyariat”

Hebatnya PKA ini semua kabupaten di Aceh menjadi satu tanggal 5-15 Agustus ini, mereka berkumpul menampilkan karya terbaik mereka baik seni, kuliner, budaya, wisata dan lain-lain yang dianggap perlu ditampilkan. Misalnya semua tarian yang khas daerahnya, semua akan diberikan kesempatan menari di panggung-panggung yang disediakan. Di taman Sulthanah Shafiatuddin ada dua panggung besar di depan dan di belakang yang dinamakan panggung utama.

Saat  tinggal di Banda Aceh, saya setiap kali PKA suka memutar-mutar stand.. eh salah kalimat, suka berkeliling melihat stand, bertanya-tanya pada penjaganya ini apa-ini apa dan ini bagaimana cara kerjanya kalau ada alat-alat yang saya tak tahu. Tapi karena datangnya kali ini kecepatan. Jadi hanya putar-putar dan foto-foto saja, tanpa bertanya apa-apa.

(source)

Di dalam stand yang wajib ada adalah pelaminan. Dari 100 tahun lalu sejak PKA, selalu tampilan stand ada pelaminannya, kalau tak ada pelaminan khas daerah maka stand dinyatakan tidak sah. Selain itu ada peninggalan zaman dahulu dari kabupaten setempat, ini sangat menarik untuk dilihat, dan apabila ada penjaga barang-barang antik ini saya akan berlama-lama mengupas tentang benda ini. Ada pedang di stand Aceh barat, yang bisa dilipat di pinggang dan para pejuang Aceh bisa menusuk penjajah belanda dulu hanya dengan melepas kunciannya saja. Ada juga mata uang Aceh jaman baheola dan barang antik jaman dahulu lain yang saya lupa.

(Source)

Di gedung Arsip dan Perpustakaan  ada workshop menulis cerpen, public speaking, hingga workshop jurnalistik yang akan diisi oleh para praktisi berkompeten di bidangnya, saya menawarkan diri untuk promosi steemit di sini sama bang @rismanrachman, tapi entah jadi. Di Arpus ini juga banyak buku yang bisa dibaca dan dibeli karena tiba-tiba Arpus bekerjasama dengan Gramedia selama PKA-7.

Pameran Kuliner Tradisional Aceh juga terjadi di PKA ada di taman Ratu Shafiatuddin, tapi karena saya kecepatan pergi kesini, saya belum sempat makan apa-apa.

(Source) Why Gajahnya nangis?

Ada beberapa masalah yang terjadi di Sosial media orang beritakan, dari parkir yang mahal, sewa lapak yang mahal, ada mati lampu dan kurang terang saat pembukaan. Maka dari sekelumit masalah itu semoga cepat diperbaiki oleh panitia. Sementara kita mari menikmati selagi bisa, kalau tak mau berdesak-desakan pergilah sekarang, pagi atau siang, atau malam kalau mau lebih banyak orang. Patut kita apresiasi pada dinas terkait yang mau meneruskan program positif ini, bagi daerah yang maksimal dan mempercantik stannya sebaik-baiknya. Kalian luar biasaa! Bagi kabupaten yang stannya hanya dua warna, dan punya masalah dengan para peserta seni yang tidak diantar-jemput, berbenahlah mulai sekarang, kami siap disini untuk dipanggil kapan saja perlu, asal sabtu-minggu.

 

Travel With Me #19: Jelanga Mata ie, Pelopor wisata Islami Pidie Jaya

 

Jika tuan hendak ke Pidie Jaya, ada telaga di tengah perkampungan, tempat bermulanya sebuah sungai. Tempat biasa ibu-ibu mencuci pakaian ini disematkan menjadi nama desa  tersebut. Jelanga Mata Ie. Kecamatan Bandar Dua. masuknya lewat jalan di depan SPBU, berbelok belok beberapa kali, lalu laju kita tiba di sana.

Jadi Tempat Mandi terjernih

Selain Jelanga mata ie di seputaran desa yang subur ini juga terdapat desa. jelanga barat, jelanga timu. Dan jelanga masjid.

Pidie Jaya selain terkenal dengan Adee, boh seumta (Manggis), dan jalan layang  pertama di Aceh,  juga terkenal dengan sumber daya air bersih yang banyak. Yang paling mainstream adalah Batei iliek, sungai dan rujak lezatnya.

Tersembunyi di balik perpohonan yang rindang. Jalan yang sudah diaspal membuat objek wisata potensial tidak susah untuk dijangkau dari kota Ulee Glee. Belum berdirinya kafe-kafe juga menambah kesan natural di mata air ini.

Pusara air ini selalu stabil sepanjang tahun. Air membuncah mengalir menjadi rahmat bagi penanam padi di kampong sekitar aliran sungai ini. Masyakarat menggunakan air yang berlimpah ini untuk mandi, cuci dan you know…

Saat kami datang, banyak anak-anak sedang mandi. Airnya hanya sekitar satu meter sehingga aman untuk mandi. Yang tidak bias berenang maupun yang takut tenggelam dalam penderitaan sepanjang jaman. Ikan yang banyak dan kecil-kecil saja tidak takut berenang disana walaupun sudah tenggelam seluruh badannya.

Untuk yang mau mandi harus memakai pakaian lengkap, tidak boleh bertelanjang dada dan pakailah celana panjang. Selain dilarang membuka aurat, disini juga dilarang mengupat. Hebat kan?

Peraturan-peraturan Islami jelas terpampang di balai istirahat sehabis mandi bagi wisatawan.

Aceh Menonton, Tempat Berkumpul Teranyar Penggiat dan Penonton Film di Aceh

 

Malam minggu tadi (04/08/2018) menjadi malam pertama saya merasakan sensasi menonton bioskop di Aceh. Aula Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) yang berada di seputaran Gampong Mulia.

Para sineas muda malam ini berkumpul baik dari Aceh mapun dari komunitas film luar Aceh, bersama pada malam ini menonton dua film pemenang IKJ atau DKJ saya lupa, yang berjudul Undian dan Oleh-oleh.

Dua film ini mengangkat fenomena sosial masyarakat indonesia, Undian bercerita tentang suami yang suka ikut undian dan istri yang suka mengkredit barang-barang. Sedangkan Oleh-oleh adalah kisah ibu-ibu pengajian yang dimintai oleh-oleh oleh teman sepengajiannya jika saat dia akan menunaikan ibadah Umrah.

Hendri Kemul –baru tahu kalau Kemul itu kepanjangannya Kerupuk Mulieng. Filmakers, Selaku Koodinator Aceh Menonton, lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta berterimakasih kepada kami yang datang dan meminta saran bagaimana acara ini supaya lebih sukses ke depan.

Acara ini rencananya akan digelar setiap malam minggu. Ruangan bioskop mini BPNB malam ini terasa sangat sempit untuk puluhan peserta yang hadir. Acara dimulai oleh Irza Ulya sebagai moderator dan memulai diskusi film dengan bertanya pada penonton bagaimana kelanjutan Aceh Menonton ini, saya pikir awalnya ini merupakan salah satu program Gubernur Irwandi yang semua programnya berawalan dengan kata Aceh, misalnya Aceh Carong, Aceh Teuga dan lain-lain. Tapi ternyata bukan, Aceh Menonton ini adalah ide dari teman-teman komunitas film Aceh, untuk menghidupkan kembali kegiatan penggiat film di Aceh.

Turut hadir Jamaluddin Phonna, sutradara film dokumenter yang memenangi Eagle Award “Garamku Tak Asin Lagi”  turut datang juga ketua Aceh Dokumentary Ayi (lupa nama panjangnya, tapi kayaknya Azhari). Editor film terkenal Amri dan beberapa teman Aceh documentari yang saya sering jumpa tapi lupa namanya.

Beberapa kreator film nasional juga hadir  seperti Anggi Kurniawan (Editor Televisi & Production House Nasional,  Film director dan punya komunitas bernama AKALA Film) dari berbagai komunitas untuk menonton film ini, juga hadir penulis Aceh yang sedang naik daun, Riazul Iqbal dan Hayatullah Pasee.

Kegiatan ini berlangsung dari jam 20.00 sampai 23.00 wib. Berlangsung khidmat saat menonton dan sedikit tertawa-tawa saat diskusi dan kalau ada adegan lucu di film.

“Bagi teman-teman yang punya film atau mau mengadakan nonton bareng, Aceh Menonton siap memberi fasilitas, misalnya ada film kalian yang mau diputarkan, juga boleh kirimkan ke kami” kata Hendri Kemul saat menutup diskusi film.

Dengan adanya pemutaran film ini semoga para sineas muda terus berkarya memproduksi film karena wadah untuk menonton sudah ada di Aceh Menonton.

 

 

15 Fakta Menarik Tentang Kereta Api Aceh

Seiring akan dibangunnya Tol Sigli Banda-Aceh, saya jadi terpanggil untuk menulis jalan menuju Banda Aceh dari Sigli di Jaman dahulu kala, saat nenek kita masih remaja, maka saya tulislah tentang kereta api Aceh di masa jayanya, silahkan dinikmati dengan menu seadanya.

  1. Dibuat  Oleh Para Penjajah Belanda

Jalur kereta api Aceh-Sumatera pertama kali beroperasi untuk rute Koetaradja-Ulee Lheue pada 1876, hanya untuk mobilisasi keperluan militer Belanda. Hingga dibukanya jalur Indrapuri-Lambaro pada 1882 disusul rute Koetaradja-Lamnyong empat tahun kemudian. Baru difungsikan untuk transportasi umum pada 1898 dengan dibangunnya jalur Koetaradja-Seulimum dilanjutkan lintasan Seulimum-Sigli-Lhokseumawe pada 1900. (Makmur Dimila, Safariku.com)

Jembatan Kereta api yang masih sehat di Padang Tiji (Source)
  1. Transportasi Rakyat Jaman Baheola

Setelah merdeka, Kereta api tenaga batu-bara ini menjadi transportasi rakyat, rakyat berpergian dari Medan Ke Kutaraja, dengan beberapa terminal di Lhoksemawe, Bireun, Pidie dan Banda Aceh.

  1. Punya bengkel terbesar di Sumatra

Kota Sigli dulu dikenal saat jaman dahulu karena punya bengkel kereta api terbesar di Sumatera, namanya masih abadi sebagai nama desa seperti Lambusoe (di dalam besi) dan masih ada perkampungan yang namanya Blok Bengkel, itu merupakan tempat perbaikan lokomotif yang rusak pada masa itu.

Stasiun Kereta Api jaman Belanda
  1. Punah Karena Peralihan Bahan Bakar

Saat sedang masa jayanya, ada peralihan bahan bakar kereta api dari batu bara ke minyak bumi, disinilah awal kehancurannya. Kereta api dengan batu bara jalannya lambat, saat peralihan kereta api menjadi diesel yang larinya kencang.  Tanpa perubahan di rel, kereta api banyak kecelakaan dan rusak satu persatu sampai punah.

  1. Cot Masineh

Di Pegunungan Padang Tiji ada sebuah perbukitan yang diberi nama Cot Masineh, menurut warga Padang Tiji, diabadikan nama bukit ini, karena ada masinis yang meninggal di sini akibat kecelakaan kereta Api jaman dulu. Sekarang bekas jalan kereta api ini dijadikan jalan warga untuk ke kebun pisang dan kebun coklat warga sekitar.

  1. Punya sisa peningalan di Padang Tiji- Lamtamot

Sisa-sisa peninggalan kereta api Aceh, masih awet di beberapa tempat, misalnya gedung bengkel masih ada di dekar GOR Pidie di Alun-alun kota. Gedung ini dimanfaatkan warga untuk latihan olahraga karena bentuknya seperti gelanggang olahraga. Anak-anak bermain bola, badminton  dan beladiri didalamnya.

Tower Air Kereta Api, Kalau Haus kereta api, dia minum disini
  1. Lucunya Jika Habis Bahan Bakar

Jenis lokomotif ini berbahan bakar batu bara, jadi perlu selalu panas yang cukup untuk agar supaya bilamana dianya kereta api untuk berjalan, kadang-kadang batu-baranya habis dan para penumpang harus turun dijalan untuk mengumpulkan sabut dan batok kelapa untuk kereta api berjalan lagi.

  1. Sisa Bangunan Masih Bisa Kita Lihat di Pidie

Di Pasar Padang tiji masih ada stasiun kereta api dan gedung tempat pengambilan tiket. Sekarang Rel sudah dipasang sebagai dinding lapangan sepakbola Padang Tiji. Empat jembatan kereta api juga masih kokoh berdiri di Pegunungan, masyarakat menggunakan jembatan ini untuk jalan berkebun. Nama tempatnya tergantung berapa jembatan kita lalui, kali sa (kali pertama) berarti sebuah jembatan sudah di lalui, sampai Kali Peut (Kelipatan empat) berarti sudah empat jembatan kereta api yang sudah kita lalui.

Mantan,, eh bekas bangunan stasiun kereta
  1. Tahun 80an masyarakat Padang Tiji masih memakai rel untuk menurunkan Pisang dari kebun yang berada di pegunungan.

Rel yang masih utuh dipakai warga yang barkebun untuk menurunkan hasil panen mereka dari lahan yang mereka pakai untuk bercocok tanam, misalnya pisang, coklat dan pinang.

fakta lainnya akan dilanjutkan di episode selanjutnya. sumber foto Safariku.com

 

 

MovieReview: Thanos, Sang Pengumpul Batu Giok, Lari ke Tangse

 

Setelah berbulan-bulan menunggu akhirnya Avenger, Infinity Wars hadir versi Bluraynya ke tengah-tengah netizen. Film yang ditunggu-tunggu ini adalah film versi hemat yang kita bisa melihat Avengers, Guardian Of Galaxy, Black Panther dan Dr. Strange hanya dalam satu film. Minus ant-man yang disebut-sebut saja tapi tidak muncul sampai akhir acara.

Karena Superheronya banyak tentu saja penjahatnya harus ditambah lagi. Maka adalah penjahat paling kuat di Galaxy di film hampir sepanjang film India ini yang bernama Thanos. Dia adalah penghancur planet-planet dan suka mengumpulkan batu giok yang berkhasiat. Ada enam batu yang hebat di dunia ini, ada yang bisa mengendalikan waktu, yang dipakai Dr. Strange sekarang, ada yang mengendalikan realitas yang disembunyikan Gamora di planet lupa saya namanya. Dan ada batu di kepala Vision (mind Stone) dan batu bertuah lainnya yang tersebar di galaksi Power stone (yang sudah dimiliki Thanos setelah menaklukkan Zandar), dengan memiliki semua batu itu ditangan, maka akan bisa menguasai dunia dan planet-planet.

(Source)

Di awal film kita akan melihat sambungan film Thor Ragnarok yang kapalnya lagi menuju bumi tapi ditengah jalan, bukan jalan sebenarnya kan gak ada jalan diangkasa? Oh maksud saya ditengah perjalanan dibajak Thanos dan dihancurkan lalu mereka mengambil satu batu yang menjadi andalan di Film Avenger satu yang diberi judul Tesseract (Space Stone), yang memungkinkan orang berkunjung antar planet dengan sekejap.

Lalu batu pertama diambil dan Thanos ke planet lain untuk mencari batu lain. Sedangkan di bumi ada dua batu, Batu gajah dan batu bara… ups maksud saya batu pikiran dan waktu. Avenger yang masih di bumi ada Spiderman, Iron Man, Wakandaman, kapten Amerika, Janda Hitam dan para penggembira seperti Falcon dan War machine, -saya tak lihat hawk eye? Apa dia sudah meninggal?

Situasi menjadi rumit ketika Thanos ke bumi membawa pasukan Venom versi lemahnya, binatang-binatang aneh seperti alien yang menggigit dan berkecepatan tinggi, seperti di film My Hero Academia yang disebut Nomu, yang tak punya pikiran, hanya menyerang apa saja di depannya.

 

Thanos juga ada pasukan inti yang empat orang entah, satu seperti monster setengah kadal, setengah seperti teman Hulk di Ragnarok yang bicaranya lucu, tapi ini kejam dan serius menghajar Avenger, ada cewek bertanduk dan ada Squidward, yang bisa menggerakkan besi-besi disekelilingnya.

(Source)

Maka terjadi perang hebat antara manusia, alien dan Ironman hulk buster yang dikendalikan Banner di perbatasan Wakanda, perang ini membunuh banyak jiwa dan raga dan mengakibatkan Thanos mendapat batu berikutnya.

(Source)

Di film ini juga kita akan melihat senjata dan armor baru superhero kesayangan kita, seperti cara berubah Ironman, Perisai Baru Kapten Amerika dan yang seru adalah armor baru Spiderman yang sudah ada kaki laba-labanya, di versi kartunnya dia sudah disebut Iron Spider, gabungan senjata Iron Man dan kekuatan dia sebagai spiderman. Oh ada yang lebih wah lagi senjatanya, Palu baru Thor.. bukan palu sekarang dia pakai, tapi sudah kapak yang bernama Stormbreaker (penghancur badai?) akibat palu ini Thanos harus lari ke Indonesia, kayaknya duduk di Tangse, di gubuk kayu sambil memandang sawah, setelah lelah dihajar oleh gabungan superhero bumi dan luar angkasa. istirahat disana selama selama setahun sebelum film Infinity Wars 2.

Kalau mau nonton film seru penuh dengan pahlawan super, maka ini layak dinonton seluruh staf ahli dan ahli family. Tak ada adengan cabul disini dan penuh pesan moral filmnya. Ada juga lucu-lucu sedikit.