Aceh Menonton, Tempat Berkumpul Teranyar Penggiat dan Penonton Film di Aceh

 

Malam minggu tadi (04/08/2018) menjadi malam pertama saya merasakan sensasi menonton bioskop di Aceh. Aula Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) yang berada di seputaran Gampong Mulia.

Para sineas muda malam ini berkumpul baik dari Aceh mapun dari komunitas film luar Aceh, bersama pada malam ini menonton dua film pemenang IKJ atau DKJ saya lupa, yang berjudul Undian dan Oleh-oleh.

Dua film ini mengangkat fenomena sosial masyarakat indonesia, Undian bercerita tentang suami yang suka ikut undian dan istri yang suka mengkredit barang-barang. Sedangkan Oleh-oleh adalah kisah ibu-ibu pengajian yang dimintai oleh-oleh oleh teman sepengajiannya jika saat dia akan menunaikan ibadah Umrah.

Hendri Kemul –baru tahu kalau Kemul itu kepanjangannya Kerupuk Mulieng. Filmakers, Selaku Koodinator Aceh Menonton, lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta berterimakasih kepada kami yang datang dan meminta saran bagaimana acara ini supaya lebih sukses ke depan.

Acara ini rencananya akan digelar setiap malam minggu. Ruangan bioskop mini BPNB malam ini terasa sangat sempit untuk puluhan peserta yang hadir. Acara dimulai oleh Irza Ulya sebagai moderator dan memulai diskusi film dengan bertanya pada penonton bagaimana kelanjutan Aceh Menonton ini, saya pikir awalnya ini merupakan salah satu program Gubernur Irwandi yang semua programnya berawalan dengan kata Aceh, misalnya Aceh Carong, Aceh Teuga dan lain-lain. Tapi ternyata bukan, Aceh Menonton ini adalah ide dari teman-teman komunitas film Aceh, untuk menghidupkan kembali kegiatan penggiat film di Aceh.

Turut hadir Jamaluddin Phonna, sutradara film dokumenter yang memenangi Eagle Award “Garamku Tak Asin Lagi”  turut datang juga ketua Aceh Dokumentary Ayi (lupa nama panjangnya, tapi kayaknya Azhari). Editor film terkenal Amri dan beberapa teman Aceh documentari yang saya sering jumpa tapi lupa namanya.

Beberapa kreator film nasional juga hadir  seperti Anggi Kurniawan (Editor Televisi & Production House Nasional,  Film director dan punya komunitas bernama AKALA Film) dari berbagai komunitas untuk menonton film ini, juga hadir penulis Aceh yang sedang naik daun, Riazul Iqbal dan Hayatullah Pasee.

Kegiatan ini berlangsung dari jam 20.00 sampai 23.00 wib. Berlangsung khidmat saat menonton dan sedikit tertawa-tawa saat diskusi dan kalau ada adegan lucu di film.

“Bagi teman-teman yang punya film atau mau mengadakan nonton bareng, Aceh Menonton siap memberi fasilitas, misalnya ada film kalian yang mau diputarkan, juga boleh kirimkan ke kami” kata Hendri Kemul saat menutup diskusi film.

Dengan adanya pemutaran film ini semoga para sineas muda terus berkarya memproduksi film karena wadah untuk menonton sudah ada di Aceh Menonton.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *