Review WorldCup 2018 #3: Jepang Lolos Karena…

 

Sejak 1998 tidak ada juara bertahan yang mampu maju ke fase 16 besar? Kenapa, menurut ustaz Ikhsan Zulfandi –fans Jerman- ada konspirasi FIFA yang mengharuskan juara tak boleh juara lagi 4 tahun setelahnya, dan ini menjadi budaya tapi bagi saya ini hanya mitos. Ada lagi mitos lain yang lebih mengerikan, top skor Piala dunia akan meredup kebintangannya setelah piala dunia. Apa betul mitos itu berlaku di Piala dunia Rusia 2018, kita tunggu saja!

Tim yang dibawa pelatih ke Rusia

Yang sangat menyebalkan bagi saya adalah negara-negara Islam tak ada yang bisa kita saksikan lagi mulai malam besok. Mesir memanggil pemain yang sedang bersinar tapi memaksakan dia main padahal dia sedang sakit, Mo Salah, Ketidakfairan (betul ini bahasanya) Sergio Ramos di Final Liga Champion, mengubah nasib Mesir di Pidala dunia dan terlalu bergantung Muhammad sehingga seperti negara-negara yang terlalu berharap pada satu pemain saja, padahal ini bukan pertandingan tenis. Tunisia, Maroko, dan Arab Saudi menunjukkan permainan yang bagus, tapi seperti saya bilang ditulisan sebelumnya, bagus saja tidak cukup. Tim harus punya strategi dan efektifitas untuk memenangkan turnamen yang menumbangkan banyak bandar judi ini.

Salah Bawa, maunya jangan bawa

[Source]

Jepang Satu-satunya negara yang menyelamatkan wajah Asia, sementara wajah Afrika tak selamat. Para pembuat film rasis Amerika mengatakan bahwa orang –maaf- Negro adalah mereka yang terlahir dengan wajah bersalah –padahal Salah pemain Mesir- buktinya di Amerika dan negara-negara lain, banyak masyarakat kulit hitam identik dengan kriminal. Tapi bukan itu yang mau kita bahas.

Africa adalah benua yang adil, dan mengirimkan tim berbeda ke Piala dunia setiap empat tahun. Bahkan kita empat tahun lalu ada yang baru tahu, kalau ada nama negara Angola, Trinidad dan Tobaggo dan sayangnya Africa selalu sial, dengan tidak mengenang tragedi Ghana yang membuat Suarez adalah pemain yang paling tak populer di negara itu, FIFA saat itu belum memberlakukan Fair Play kayaknya. Belum ada tim Afrika yang juara dunia. Mereka biasanya juara piala Afrika yang di gelar Januari, 4 Tahun sekali.

 

What is Fair Play? [Source]
Semalam FIFA baru berbicara soal Fair Play. Di Pertandingan Senegal melawan Columbia, Senegal  dengan Mane dan Niang sebagai motornya, terhempas kembali ke benua hitam dengan wajah bertanya-tanya, kenapa kami tidak masuk 16 besar?  Poin dan selisih gol kami sama dengan Jepang? Apa karena kami kulit hitam? Kalian tidak Fair Play jawab Fifa, kalian punya produktivitas kartu kuning lebih banyak dari Jepang yang mainnya sopan –dengan pelanggaran yang minim dan hanya empat kartu kuning? FIFA lupa Yunani menjuarai Eropa tahun 2004 dengan tim yang jumlah tekel paling banyak.

Kalau merujuk pada Fair Play, maka Indonesia akan lebih lama lagi masuk piala dunia. Menghormati wasit masih sangat langka di negara ini. Jangankan menghormati wasit, menghormati rambu lalu lintas saja kita tak mampu. Masalah  Sepakbola Indonesia terlalu banyak. tidak dibayarnya gaji pemain di klub, tawuran suporter, perkelahian pemain, pemukulan wasit…. ah.. cukup Roma! Banyak sekali masalah persepakbolaan negeri @the-garuda yang harus dibenahi dan sampai lurus ekor kucing dan kura-kura berjanggut kalau begini terus maka sampai hari kiamat, Indonesia hanya menjadi penonton di perhelatan empat tahunan ini.

Kerusuhan di Manahan, Solo [Source]

Maka bertepuktangan bahagialah Jepang kalau FIFA menerapkan peraturan ini. Dengan budaya sopan santun yang tinggi, pendidikan berlalu lintas sejak SD yang diterapkan jepang dan mengurus SIM mobil beberapa kali tes, menyelamatkan mereka di Piala dunia. Betapa bangga nenek goyang mereka ketika melihat rakyatnya menang karena jujur dan sopan, walaupun mungkin tak akan melangkah lebih jauh karena lawannya lusa adalah Belgia, kandidat juara.

Juara bertahan sudah naik pesawat sekarang, tim yang pernah mengalahkan Argentina ini harus pulang lebih dulu, karena hari senin sudah mulai kerja….cuih! Seperti para pujangga bilang, mencintai itu mudah, mempertahankannya susah. Tidak tahu apa yang terjadi dengan Jerman, saya tidak pernah kesana, mungkin mereka main terlalu kaku, tidak memanggil sang Sane yang tipikal main seperti William dan Marcelo yang nyentrik dan suka menembak dari luar kotak pinalty, mingkin juga tak memanggil Ter Stegen yang mainnya disiplin, tak suka keluar gawang kalau sudah menit-menit akhir seperti Bang Noer, mungkin juga Jerman tak ada kerbau yang suka menyeruduk pemain lawan seperti Diego Costa, atau tak ada strategi yang pas untuk memanfaatkan kerbau untuk menyeruduk dan menendang bola supaya masuk ke gawang seperti strategi yang dibuat Belgia untuk seorang Lukaku.

Sakit Ulei Abang Dek [Source]
Yang paling menyedihkan adalah ‘drama Korea’ tidak bisa membuat poin di dua pertandingan pertama, membuat Haji Muhammad Son… maksud saya Heung Ming Son, menangis tersedu-sedu sambil menampakkan foto dia dihibur oleh pelatihnya dan bertelanjang dada setelah pertandingan kedua. Dia menangis karena mereka sudah berusaha semaksimal mungkin tapi apa boleh bulat, Swedia dan Mexico lebih kuat dari mereka, Pemain Swedia yang merupakan rekan satu tim H.M. Son di Totteham Hospur, tercatat sebagai pemain yang paling sering melakukan penetrasi ke pertahanan musuh. Mexico punya generasi yang bagus dan pemain top mereka banyak bermain di liga Eropa, sedangkan negeri gingseng, pemain di liga Eropa masih hitungan jari, dan capaian paling hebat Korea adalah semifinal saat mereka jadi tuan rumah.

Tapi tangisan Korea berubah di pertandingan ke-3 melawan Jerman, walaupun pulang kampung, kampungnya juga jauh, ya kan? Mereka tak lupa membawa pulang juara bertahan Jerman. Korea memang tak mampu menjuarai piala dunia tahun ini, tapi mereka akan dicatat dalam sejarah berhasil mengalahkan juara tahun lalu, Jerman. Jerman pulang dengan kepala tertunduk, sedangkan Korea pulang dengan bangga. 3 poin mereka berhasil bawa pulang dengan mengalahkan tim unggulan dunia.

The Real Korean Drama [Source]
Mulai malam ini, tak ada lagi Grup-grupan!  yang mencetak gol lebih banyak, itulah yang menang, tak ada Fair-play bulshitan itu, maka siapa pulang, pulanglah.. yang tak mungkin pulang hanya Rusia, karena mereka kampungnya di sana.

Mrs. 26 Mayam, Story About My Mother

 

I wrote this story for my mother, this I  sumarize the story from her and from people who talk to me about her. My mother has royal blood. She is the next princess if Aceh still in kingdom form. Her relatif is Indonesian celebrities like Nova Eliza, Cut Mini and one play in Cut Nyak Dhien Movie as a Poet.

 

She left the celebirity world and marry my father. My father face the real life because my mother is hard and difficult person. My Pa have to obey what my mother say. But sometimes she have to obey my father because all the money for the family is from him. But my mother run everything in the house and my Pa built everything my mother wanted.

Its so hard to take this photo, because never happen our family stay together for along time

Palm trees lined up still lush on the side of the road. Making a trip behind the Chevrolet wedding pickup car was great fun. Dozens of sugarcane stalks are tied to the roof. Some chatting gleefully while occasionally wrapping buns and tucking into his teeth. Then laughed again with a few yellow teeth.

Garot, Aceh Indonesia in 1980. Chevrolet crosses a hollow road on the side of the river Garot. House wife  on the river’s riverbank is washing clothes, their husband dug the sand, the children ran and occasionally plunged into the river.

I fell in the back corner. Holding a trial. said my grandmother had to hold tight to this trial. because if it got upside down or shake. The contents will be destroyed. Grandmother said this trial is made for hours. With a very beautiful decoration. This is to replace Idang (wedding cake) fabric that is not so in buying the bride’s family.

Acehnese Wedding Dress Tradition

Chevrolet cars are far away in rent from several villages, to transport the trial and passengers for the biggest wedding of the year. Bang Pon wedding and Dek Cut. Pon is not the name of Teuku’s ancestry you were thinking about. But this brother’s name is Saifullah. Not a descendant of nobility. While Cut deck is Ulee Balang’s (noble Family) child. The famous Acehnese aristocrats used to behave in various ways.

Dek Cut, Flower village that fell in love at Bang Pon during the eighth view. While the Bang Pon once looked into the swamp directly, the swamp of love full of live mud and it turns out from the side of the goal can not come out anymore. Every night in a dream. Of course dreams vary. It’s impossible to always dream of a cut deck.

The first ever marriage of the Candidate-in-law, Cut Insyah, the heir of several oxen cages, several patches of rice fields, several garden trees and a historic sword.

“My Daughter 30 mayam! (about  100 grams of pure gold) She’s the only girl in this house! Toke Campli last month I have rejected his proposal because only able to pay 20 mayam! ”

As early as Cut Insyah’s lecture on Tgk. Imum, Community Leaders and Bang Pon. Come home to apply. Bang Pon Gestures to his father, to undertake. Her father turned back. Hinted his eyes as if to say

“You have mad my son” but Pon hinted again as if to say “Ya papa, I’m crazy about Deck cut”

“Look, the fiance is two mayam, raw four mayam and 20 mayam again when married” insult Cut Insyah when the invited guests are in discussion.

“Jeut Mak” said Bang Pon from the far post. Mr. Imum stroked his chest. Really great love bang Pon. Until nothing is sacrificed. First 26 mayam was not a little money. Four mayam have been able to buy one wardrobe shirt, plus cabinets.

Home of Royal Family Acehnese

Cut Insyah while sitting swallowed. Bakong Asoe also swallowed. Make him have to drink first and forget to invite the invitees. The expensive songket now fell from his shoulders as he took a glass. Her hands are full of gold bracelets that allegedly nearly 12 mayam when summed all up, along with the necklace that was seen when the songket fall.

***

Our Chevrolet car is parked at Teuku Umar Mosque. Bang Pon got out of the car in aid By his father, without Kawah mencetopnya. He was accompanied by his father walking towards the ablution of the mosque.

Four Chevrolet cars reach the Peutomeuruhom Mosque. The passengers descended. I slowly free my legs embracing the court, I jumped from the tub and rushed to the right side of the mosque where the men’s restroom was.

After pulling back zipper pants. No I saw any signs of the Bang Pon linto baro. Where is he? I go around the mosque. None too. The passengers of the car are getting huffed.

“Trep that lagoe!” Said Minah cupo. He started to sweat in the car. Go down and open the big fan in his hand. The picture of chinese dancers. Made of wood and thin cloth. Swinging it. The other linto intat parties had been sitting under the asan tree. There is also a play post to play the branch.

“Maun! come here “someone called me.

Apparently Bang Ram. I approached and asked. What a bang

Try your home deck cut, sometimes katroh. I’m in love 70 motor lock and home deck cut. Apparently the show is late tonight.

Unfortunately Dek Cut is not like his mama. He is simple but sweet, does not want to reveal his wealth. Just wear simple clothes, enough to cover the genitals. Clever cook and speech polite. But he was willing to submit to his mama. Every other person’s wedding. His mother always forced Bang Pon to buy new clothes for him. Never once so go to marriage to accompany the baro virgin. Because Bang Pon has not bought a new songket.

Fortunately Bang Pon man who is very diligent work, smart and soleha. Instead he built a small house of bamboo. For Cut Insyah ducks. And from then on you have melted his heart and allowed them to move into their own Home. without disturbed again by Ulee Balang cruel who has been assumed to swallow bakoe ng asoe (traditional food with special leaf) on the day of application.