15 Fakta Menarik Tentang Kereta Api Aceh

Seiring akan dibangunnya Tol Sigli Banda-Aceh, saya jadi terpanggil untuk menulis jalan menuju Banda Aceh dari Sigli di Jaman dahulu kala, saat nenek kita masih remaja, maka saya tulislah tentang kereta api Aceh di masa jayanya, silahkan dinikmati dengan menu seadanya.

  1. Dibuat  Oleh Para Penjajah Belanda

Jalur kereta api Aceh-Sumatera pertama kali beroperasi untuk rute Koetaradja-Ulee Lheue pada 1876, hanya untuk mobilisasi keperluan militer Belanda. Hingga dibukanya jalur Indrapuri-Lambaro pada 1882 disusul rute Koetaradja-Lamnyong empat tahun kemudian. Baru difungsikan untuk transportasi umum pada 1898 dengan dibangunnya jalur Koetaradja-Seulimum dilanjutkan lintasan Seulimum-Sigli-Lhokseumawe pada 1900. (Makmur Dimila, Safariku.com)

Jembatan Kereta api yang masih sehat di Padang Tiji (Source)
  1. Transportasi Rakyat Jaman Baheola

Setelah merdeka, Kereta api tenaga batu-bara ini menjadi transportasi rakyat, rakyat berpergian dari Medan Ke Kutaraja, dengan beberapa terminal di Lhoksemawe, Bireun, Pidie dan Banda Aceh.

  1. Punya bengkel terbesar di Sumatra

Kota Sigli dulu dikenal saat jaman dahulu karena punya bengkel kereta api terbesar di Sumatera, namanya masih abadi sebagai nama desa seperti Lambusoe (di dalam besi) dan masih ada perkampungan yang namanya Blok Bengkel, itu merupakan tempat perbaikan lokomotif yang rusak pada masa itu.

Stasiun Kereta Api jaman Belanda
  1. Punah Karena Peralihan Bahan Bakar

Saat sedang masa jayanya, ada peralihan bahan bakar kereta api dari batu bara ke minyak bumi, disinilah awal kehancurannya. Kereta api dengan batu bara jalannya lambat, saat peralihan kereta api menjadi diesel yang larinya kencang.  Tanpa perubahan di rel, kereta api banyak kecelakaan dan rusak satu persatu sampai punah.

  1. Cot Masineh

Di Pegunungan Padang Tiji ada sebuah perbukitan yang diberi nama Cot Masineh, menurut warga Padang Tiji, diabadikan nama bukit ini, karena ada masinis yang meninggal di sini akibat kecelakaan kereta Api jaman dulu. Sekarang bekas jalan kereta api ini dijadikan jalan warga untuk ke kebun pisang dan kebun coklat warga sekitar.

  1. Punya sisa peningalan di Padang Tiji- Lamtamot

Sisa-sisa peninggalan kereta api Aceh, masih awet di beberapa tempat, misalnya gedung bengkel masih ada di dekar GOR Pidie di Alun-alun kota. Gedung ini dimanfaatkan warga untuk latihan olahraga karena bentuknya seperti gelanggang olahraga. Anak-anak bermain bola, badminton  dan beladiri didalamnya.

Tower Air Kereta Api, Kalau Haus kereta api, dia minum disini
  1. Lucunya Jika Habis Bahan Bakar

Jenis lokomotif ini berbahan bakar batu bara, jadi perlu selalu panas yang cukup untuk agar supaya bilamana dianya kereta api untuk berjalan, kadang-kadang batu-baranya habis dan para penumpang harus turun dijalan untuk mengumpulkan sabut dan batok kelapa untuk kereta api berjalan lagi.

  1. Sisa Bangunan Masih Bisa Kita Lihat di Pidie

Di Pasar Padang tiji masih ada stasiun kereta api dan gedung tempat pengambilan tiket. Sekarang Rel sudah dipasang sebagai dinding lapangan sepakbola Padang Tiji. Empat jembatan kereta api juga masih kokoh berdiri di Pegunungan, masyarakat menggunakan jembatan ini untuk jalan berkebun. Nama tempatnya tergantung berapa jembatan kita lalui, kali sa (kali pertama) berarti sebuah jembatan sudah di lalui, sampai Kali Peut (Kelipatan empat) berarti sudah empat jembatan kereta api yang sudah kita lalui.

Mantan,, eh bekas bangunan stasiun kereta
  1. Tahun 80an masyarakat Padang Tiji masih memakai rel untuk menurunkan Pisang dari kebun yang berada di pegunungan.

Rel yang masih utuh dipakai warga yang barkebun untuk menurunkan hasil panen mereka dari lahan yang mereka pakai untuk bercocok tanam, misalnya pisang, coklat dan pinang.

fakta lainnya akan dilanjutkan di episode selanjutnya. sumber foto Safariku.com

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *